
GRESIK, ATKARBONIST – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat meninjau SMA Negeri 1 Gresik, Jawa Timur, sebagai bagian dari upaya memperluas Program Adiwiyata sekaligus mendorong pembentukan generasi muda yang peduli terhadap lingkungan dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari strategi KLH/BPLH untuk memperkuat implementasi Program Adiwiyata, yakni program yang mendorong sekolah mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam proses pembelajaran serta membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.
Dalam kesempatan itu, Jumhur menilai SMA Negeri 1 Gresik layak menjadi contoh bagi sekolah lain setelah berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi bagi satuan pendidikan yang dinilai berhasil menerapkan budaya pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
“Di SMAN 1 Gresik ini, dalam penilaian kami masuk kategori tertinggi, yaitu Adiwiyata Mandiri. Mereka mampu menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan menjadi contoh bagi institusi pendidikan di seluruh Indonesia,” kata Jumhur.
Selain berdialog dengan warga sekolah, Menteri Jumhur meninjau sejumlah fasilitas pendukung pengelolaan lingkungan, seperti rumah persemaian tanaman pangan, kolam budidaya lele, stan inovasi lingkungan, serta ruang terbuka hijau. Pada kesempatan yang sama, KLH/BPLH juga menyerahkan bantuan berupa drop box untuk mendukung pengelolaan sampah terpilah di lingkungan sekolah.
Data KLH/BPLH menunjukkan, dari sekitar 1.346 satuan pendidikan di Kabupaten Gresik, sebanyak 156 sekolah telah memperoleh predikat Sekolah Adiwiyata selama periode 2021–2026. Capaian tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat dalam membangun budaya peduli lingkungan.
KLH/BPLH juga mengembangkan Program Adiwiyata sebagai sarana pembelajaran ketahanan pangan. Melalui pemanfaatan lahan sekolah untuk budidaya tanaman pangan dan perikanan, peserta didik diperkenalkan pada praktik kemandirian pangan, pemanfaatan ruang secara produktif, serta pengolahan hasil panen yang bernilai ekonomi.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang turut mendampingi kunjungan tersebut menyatakan dukungannya terhadap pengembangan model pembelajaran berbasis lingkungan di sekolah.
“Kami ingin ini menjadi pilot project. Ketahanan pangan tidak harus dilakukan di lahan yang luas, tetapi bisa dimulai dari seluruh lahan yang tersedia di institusi pendidikan, kemudian hasilnya dapat diolah hingga memiliki nilai tambah,” ujar Khofifah.
Melalui perluasan Program Adiwiyata, KLH/BPLH berharap sekolah dapat terus menjadi ruang pembentukan karakter peduli lingkungan sekaligus melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam dan mampu berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.*
Sumber: Humas KLH


















