60 Kapal LNG Mangkrak di Tengah Transisi Energi, Aset Rp184 Triliun Terancam Rugi

SFOC ungkap 60 kapal LNG senilai Rp184 triliun mangkrak akibat transisi energi. Tarif sewa anjlok, industri kapal terancam rugi besar.

Atkarbonist.ORG – Sebanyak 60 kapal pengangkut gas alam cair (LNG) dilaporkan tidak beroperasi di seluruh dunia akibat pergeseran energi global menuju sumber terbarukan.

Menurut analisis kelompok kebijakan iklim Solutions for Our Climate (SFOC), nilai aset yang menganggur ini mencapai lebih dari 11,36 miliar dolar AS atau sekitar Rp184 triliun.

Melansir Edie, Selasa (12/8/2025), banyak kapal LNG dibangun tanpa kontrak jangka panjang, sehingga menciptakan risiko signifikan secara finansial. Biaya pembuatan satu kapal rata-rata mencapai 194,6 juta dolar AS atau sekitar Rp3,016 triliun (dengan asumsi kurs Rp15.500/USD).

Bila tidak digunakan, total investasi yang terhenti bisa menembus 11,67 miliar dolar AS. Jika dijual sebagai besi tua, nilainya anjlok menjadi sekitar 318 juta dolar AS, jauh di bawah ongkos pembuatannya.

SFOC ungkap 60 kapal LNG senilai Rp184 triliun mangkrak akibat transisi energi. Tarif sewa anjlok, industri kapal terancam rugi besar.
SFOC ungkap 60 kapal LNG senilai Rp184 triliun mangkrak akibat transisi energi. Tarif sewa anjlok, industri kapal terancam rugi besar. (Ilustrasi AI Generated)

Kondisi ini diperparah oleh penurunan tarif sewa. Kontrak tahunan untuk kapal LNG modern bermesin tri-fuel diesel electric (TFDE) kini hanya 20.000 dolar AS per hari, turun lebih dari 60 persen dibanding tahun lalu.

Kapal terbaru dengan mesin dua tak yang lebih efisien pun hanya menghasilkan 30.000 dolar AS per hari, mendekati titik impas.

Akibatnya, sejumlah operator memilih mengistirahatkan armadanya lebih awal. Pada 2025, delapan kapal LNG telah dibongkar, menyamai jumlah sepanjang 2024. Namun, data Clarkson Research menunjukkan masih ada 303 kapal LNG dalam tahap pembangunan, dengan 98 unit dijadwalkan selesai pada 2026 dan jumlah sama pada 2027.

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan pertumbuhan permintaan gas alam global akan melambat dari 2,8 persen pada 2024 menjadi 1,3 persen pada 2025, sebelum pulih pada 2026.

Pemulihan ini dipicu peningkatan pasokan LNG global sebesar 7 persen atau setara 40 miliar meter kubik dari proyek baru di AS, Kanada, dan Qatar.

“LNG semakin kalah daya saingnya dengan energi terbarukan, dan era pengangkut bahan bakar fosil akan segera berakhir,” ujar Peneliti rantai pasokan energi SFOC, Rachel Eun-bi Shin.

“Sekalipun ada penyesuaian pasar jangka pendek, industri galangan kapal harus menghindari kesalahan penilaian yang bisa memicu kelebihan pasokan pengangkut LNG lebih jauh,” tambahnya.

Pengamat mengingatkan, untuk menjaga stabilitas keuangan, sektor perkapalan perlu mengalihkan fokus ke kapal rendah emisi dan beragam fungsi, mengantisipasi perubahan struktur pasar energi global.* (Sumber: Atkarbonist)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *