Arsjad Rasjid ungkap Transisi Energi Harus Realistis, Jangan Abaikan Keamanan Pasokan

Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid. (Tangkapan layar YouTube Garuda TV)

Jakarta, ATKARBONIST – Di tengah ambisi global menuju ekonomi hijau, Indonesia diingatkan untuk tetap berpijak pada bumi dalam mengeksekusi kebijakan energinya.

Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid, menekankan langkah transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) wajib berjalan secara realistis, pragmatis, dan menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas tertinggi.

Dalam sebuah wawancara program ekonomi di Garuda TV baru-baru ini, Arsjad menyatakan dukungannya terhadap percepatan EBT guna menekan dampak perubahan iklim yang kian nyata.

Namun, ia memberikan catatan kritis, transisi tidak boleh mengorbankan ketahanan energi dalam negeri.

“Saya setuju dengan transisi energi karena perubahan iklim itu nyata. Tapi yang paling penting selain transisi adalah keamanan. Jadi harus menjadi satu kesatuan keamanan energi dan keberlanjutan,” ujarnya, dikutip di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Pria yang juga baru saja dipercaya sebagai Anggota Dewan Penasihat Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) ini menyoroti perlunya keseimbangan antara ambisi bauran energi dengan ketersediaan pasokan.

Saat ini, pemerintah menargetkan porsi EBT mencapai 25 persen dalam bauran energi nasional, sebuah angka yang masih terpaut cukup jauh dari realita di lapangan saat ini.

Arsjad melihat Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat untuk mencapai target tersebut.

Kekayaan alam mulai dari panas bumi (geotermal), tenaga surya, angin, hingga potensi energi nuklir di masa depan adalah magnet besar bagi investasi hijau.

Lebih lanjut, Arsjad mengingatkan kebutuhan listrik Indonesia akan melonjak tajam seiring pesatnya perkembangan teknologi.

Munculnya pusat data (data center) berskala besar serta adopsi Kecerdasan Buatan (AI) membutuhkan daya listrik yang stabil dan masif.

“Bagaimana kita bisa bicara AI tanpa energi yang cukup?” cetus Arsjad, menekankan infrastruktur energi adalah fondasi utama bagi kemajuan digital nasional.

Meski memandang masa depan energi hijau Indonesia dengan optimisme, Arsjad mengakui adanya ganjalan besar, yakni keterbatasan teknologi.

Untuk mengatasinya, ia mendorong kolaborasi strategis antara pemegang teknologi global dengan modal publik maupun swasta, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia juga menitipkan pesan bagi PT PLN (Persero) untuk menciptakan ekosistem yang lebih inklusif bagi pihak swasta.

Transparansi dan kepastian regulasi dinilai menjadi kunci utama untuk menarik minat investor masuk ke sektor energi bersih.

“Kesempatannya ada. Tinggal bagaimana kita mendorongnya dan memastikan tata kelola yang terbuka,” pungkasnya.* (Sumber: YouTube Garuda TV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *