Feiral Batubara: Jangan Cuma Wacana, Saatnya “Tanam” Investasi Hijau dan Hilirisasi Energi Sekarang!

Praktisi ketahanan energi, Feiral Rizky Batubara. (Dok. Pribadi)

Jakarta, ATKARBONIST – Di tengah ambisi Indonesia menjadi negara maju pada 2045, sebuah peringatan keras muncul dari praktisi ketahanan energi, Feiral Rizky Batubara.

Ia menegaskan Indonesia tidak boleh lagi hanya “memanen” kekayaan alam tanpa mau “menanam” fondasi industri yang kuat.

Seruannya jelas, sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton dan mulai membangun kedaulatan energi dari hulu ke hilir.

Berhenti Mengekspor Mentah, Mulai Menanam Nilai Tambah

Menurut Feiral, pola lama yang hanya mengekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi adalah kutukan ekonomi yang harus diputus.

Jika hilirisasi nikel sudah dimulai, maka langkah selanjutnya yang jauh lebih krusial adalah hilirisasi energi terbarukan.

“Kita punya modal matahari, angin, dan panas bumi yang melimpah. Tapi kalau panel surya dan turbinnya masih impor, kita cuma ‘tanam’ alat orang lain di tanah kita sendiri. Nilai tambahnya lari ke luar negeri,” tegas Feiral dikutip Atkarbonist dari CNBC Indonesia, Senin (23/2/2026).

“Tanam Woi”: Tiga Pilar Aksi nyata

Berdasarkan pemikiran Feiral yang dilansir Atkarbonist dari kolom opini di CNBC Indonesia, semangat “menanam” dalam transisi energi ini mencakup tiga poin utama:

Tanam Modal (Investasi Strategis): Menarik investasi yang tidak hanya membawa uang, tapi juga transfer teknologi. Energi hijau harus menjadi “tiket masuk” bagi investasi raksasa seperti data center dan manufaktur kelas dunia.

Tanam Industri (Manufaktur Domestik): Membangun pabrik komponen EBT di dalam negeri. Feiral mengingatkan agar transisi energi tidak menciptakan ketergantungan teknologi baru pada negara tertentu.

Tanam Talenta (Green Jobs): Menyiapkan SDM lokal yang kompeten. Hilirisasi energi akan membuka ribuan lapangan kerja baru, mulai dari teknisi sistem energi hingga spesialis efisiensi industri.

Energi Hijau Bukan Beban, Tapi Keunggulan Kompetitif

Foto Ilustrasi – Pegawai PLN sedang inspeksi Panel Surya. (DOK. PLN)

Feiral yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina AEAI dan Dewan Penasehat METI, mematahkan narasi lama bahwa energi bersih itu mahal. Baginya, di era ekonomi global saat ini, ketersediaan energi rendah karbon adalah variabel utama daya saing.

“Negara tetangga sudah berlomba-lomba. Kalau kita tidak segera ‘tanam’ regulasi yang pasti dan infrastruktur yang mumpuni, investor akan berpindah tempat. Energi terbarukan adalah instrumen daya saing, bukan sekadar kewajiban iklim,” ujarnya.

Menuju Kedaulatan 2045

Dengan latar belakang pendidikan dari institusi kelas dunia seperti Harvard dan Oxford, Feiral membawa pendekatan yang pragmatis namun progresif. Ia melihat transisi energi sebagai proyek transformasi industri nasional yang harus dijalankan dengan disiplin tinggi.

Jika Indonesia berani “menanam” investasi dan kebijakan yang konsisten hari ini, maka pada 2045 kita tidak hanya akan memanen energi bersih, tapi juga kemandirian ekonomi dan kedaulatan teknologi.* (Sumber: CNBC Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *