Eddy Soeparno Sebut Fondasi Ekonomi Karbon Indonesia Sudah di Jalur yang Tepat

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno (ketiga dari kiri), saat menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas Komite Pengarah (Komrah) Ekonomi Karbon di Jakarta, Jumat (27/2)./Foto: Dok. MPR.go.id

Jakarta, ATKARBONIST – Indonesia dinilai tengah melangkah di jalur yang benar (on the right track) dalam membangun ekosistem ekonomi karbon nasional. Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, usai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas Komite Pengarah (Komrah) Ekonomi Karbon di Jakarta, Jumat (27/2).

Rapat yang dipimpin langsung oleh Menko Pangan Zulkifli Hasan tersebut menjadi momentum krusial dalam menyelaraskan langkah berbagai instansi pemerintah. Menurut Eddy, apa yang sedang dibangun saat ini jauh lebih besar dari sekadar transaksi dagang; ini adalah soal masa depan daya saing bangsa.

“Kita bukan hanya bicara soal mekanisme pasar, melainkan sedang meletakkan fondasi ekonomi karbon yang akan menentukan posisi Indonesia di kancah global,” ujar Eddy.

Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno sebut industri ekonomi karbon Indonesia sudah on the right track. Simak langkah strategis pemerintah bangun SRUK dan integrasi pasar karbon global.
MoU Atkarbonist dengan Sucofindo Persero (Foto: Agus/Atkarbonist)

Eddy memberikan apresiasi khusus kepada Menko Pangan atas gerak cepatnya dalam mengimplementasikan Perpres 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon. Ia menilai koordinasi lintas kementerian yang dilakukan sangat efektif dalam memetakan dan mengurai hambatan birokrasi yang selama ini membayangi sektor ini.

Sebagai Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy mencatat minat investasi di sektor hijau sangat tinggi. Banyak proyek karbon yang sudah siap “lepas landas”, namun masih menunggu kesiapan ekosistem regulasi yang sedang dimatangkan.

SRUK: Kunci Kepercayaan Global

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pengembangan Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) yang sedang digodok oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama OJK. Eddy yang juga merupakan Doktor Ilmu Politik dari Universitas Indonesia ini menekankan bahwa SRUK adalah “nyawa” dari pasar karbon.

Untuk memastikan sistem ini kompetitif dan kredibel di mata dunia, Eddy menggarisbawahi tiga aspek utama yang harus diperkuat:

  • Integritas Data: Menjamin transparansi dan keterlacakan unit karbon agar tidak ada klaim ganda (double counting).
  • Standar Internasional: Menyelaraskan regulasi domestik agar sertifikat karbon Indonesia diakui secara global.
  • Kepastian Investasi: Memberi sinyal kuat kepada investor bahwa Indonesia serius membangun ekonomi rendah karbon dengan aturan main yang jelas.

“Ekonomi karbon itu jualan kepercayaan. Jika sistem pencatatannya kuat dan kredibel, maka pasar dengan sendirinya akan terbentuk. Kita harus memastikan industri domestik punya ruang untuk bertransformasi menuju rendah karbon tanpa kehilangan daya saing,” tambahnya.

Optimisme Ekonomi Hijau

Menutup keterangannya, Eddy optimistis sinergi antarlembaga di bawah komando Menko Pangan akan membuahkan hasil manis bagi perekonomian nasional. Indonesia diharapkan tidak hanya mendapatkan manfaat lingkungan dari hutan yang sehat, tetapi juga keuntungan finansial yang nyata dari udara yang bersih.

“Melalui kekompakan lintas sektor, Indonesia akan memiliki industri karbon yang tangguh. Ini adalah cara kita mengubah aset lingkungan menjadi manfaat ekonomi bagi negara,” pungkasnya.* (Sumber: DPR/MPR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *