Ironi di Balik Layar: Saat Visual Megah Film Menjadi Sampah Raksasa di TPA

Foto ilustrasi jejak emisi karbon industril film dunia. (Freepik)

Jakarta, ATKARBONIST – Di balik kemegahan set film blockbuster yang membawa penonton ke dunia fantasi, tersimpan masalah lingkungan yang nyata.

Riset terbaru dari BAFTA Albert mengungkap sisi kelam industri kreatif: produksi film dan televisi di Inggris ternyata menghasilkan emisi karbon masif dan gunungan sampah yang sulit diukur.

“Kutukan” Set Sekali Pakai

Selama ini, departemen seni menjadi pahlawan yang mewujudkan naskah menjadi kenyataan fisik. Namun, mereka juga menjadi penyumbang limbah terbesar. Untuk satu judul film besar, diperkirakan ribuan ton material habis pakai dibuang begitu saja.

Data menunjukkan sekitar 800.000 ton material dari produksi di Inggris berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Mengapa ini terjadi?

  • Kejar Tayang: Jadwal syuting yang ketat membuat kru tidak sempat memilah material.
  • Masalah Hak Cipta: Kekhawatiran soal hak kekayaan intelektual sering kali membuat properti unik harus dihancurkan daripada didonasikan.
  • Biaya Gudang: Menyewa gudang penyimpanan jauh lebih mahal dibandingkan membuang set ke tempat sampah.

Perjalanan yang Membakar Bumi

Selain limbah fisik, sektor transportasi adalah “mesin” emisi terbesar. Bayangkan, emisi dari satu film besar Amerika rata-rata mencapai 3.370 ton CO2.

Angka ini setara dengan mengendarai mobil mengelilingi bumi sebanyak 335 kali. Sekitar 65% dari jejak karbon tersebut habis hanya untuk urusan logistik dan perjalanan kru.

Revolusi Hijau: Bukan Sekadar Janji

Meski banyak studio besar mulai memamerkan komitmen keberlanjutan, aksi nyata di lapangan masih sangat beragam. Pakar menyarankan transisi ke ekonomi sirkular sebagai solusi mutlak:

  • Sewa, Jangan Beli: Mengutamakan penyewaan properti lokal untuk menekan emisi logistik.
  • Energi Bersih: Migrasi total ke kendaraan listrik dan penggunaan lampu LED di lokasi syuting.
  • Desain Ramah Lingkungan: Memilih material yang punya “siklus hidup” kedua setelah kamera berhenti merekam.

Urgensi krisis iklim tahun 2026 ini menuntut industri film tidak hanya jago membuat narasi penyelamatan planet di layar, tapi juga memulainya dari cara mereka membangun set di balik layar.* (Sumber: phys.org)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *