Industri Pakaian Global Dinilai Lambat Pangkas Emisi Karbon, Target Iklim 1,5 Derajat Terancam

ATKARBONIST – Dekarbonisasi Industri Apparel Masih Lambat
Upaya industri pakaian global dalam menekan emisi karbon dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penilaian ini terungkap dalam laporan Cascale yang dirilis pada awal tahun 2026.
Laporan tersebut menyebut proses dekarbonisasi di sektor apparel berjalan terlalu lambat dan belum mencapai skala yang dibutuhkan untuk memenuhi target pembatasan kenaikan suhu bumi sebesar 1,5 derajat celsius dibandingkan masa pra-industri.
Organisasi Global Industri Pakaian
Sebagai informasi, Cascale sebelumnya dikenal sebagai Sustainable Apparel Coalition merupakan organisasi yang menaungi sekitar 300 perusahaan di sektor pakaian, alas kaki, dan tekstil. Organisasi ini didirikan pada 2009 oleh perusahaan ritel Walmart dan merek outdoor Patagonia.
Dalam laporannya, Cascale menganalisis data penggunaan energi sepanjang 2023 hingga 2024 menggunakan alat penilaian dampak lingkungan Higg Facility Environmental Module. Informasi tersebut dikutip dari ESG Dive pada Selasa (24/3/2026).
Fokus Penelitian pada Pabrik Produksi

Analisis penelitian difokuskan pada dua rantai produksi utama, yakni pabrik pembuat produk jadi atau tier 1, serta pabrik yang memproduksi bahan baku dan kain atau tier 2.
Dari analisis tersebut, para peneliti menilai upaya pengurangan emisi karbon masih menghadapi tantangan besar, terutama pada sektor manufaktur yang membutuhkan energi tinggi.
Metode Baru Menghitung Emisi
Penelitian ini menggunakan indikator baru bernama Effective Energy Carbon Intensity (EECI) atau Intensitas Karbon Energi Efektif. Ukuran ini digunakan untuk menghitung besarnya polusi karbon yang dihasilkan dari penggunaan energi di sebuah fasilitas produksi.
Menurut laporan itu, metode ini bekerja dengan mengonversi konsumsi listrik pabrik menjadi estimasi jumlah bahan bakar fosil yang diperlukan untuk menghasilkan listrik tersebut.
Perbandingan Energi Listrik dan Energi Panas
Pendekatan ini memungkinkan peneliti membandingkan secara langsung antara energi panas misalnya dari pembakaran batu bara di pabrik dengan energi listrik yang digunakan dalam proses produksi.
Studi tersebut menyoroti pabrik-pabrik yang beroperasi di negara produsen utama industri pakaian, termasuk China, India, Bangladesh, Vietnam, Turkiye, Pakistan, dan Sri Lanka.
Perbedaan Tingkat Polusi Antar Negara

Di sejumlah negara seperti China, Turkiye, dan Vietnam, tingkat polusi pabrik cenderung relatif seragam. Namun kondisi berbeda ditemukan di India, Sri Lanka, dan Pakistan, di mana tingkat emisi antar-pabrik sangat bervariasi.
Akibatnya, angka rata-rata nasional di negara-negara tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya. Beberapa pabrik telah berhasil menekan emisi secara signifikan, sementara lainnya masih menghasilkan polusi tinggi.
Polusi Terkonsentrasi di Pabrik Besar
Temuan lain menunjukkan bahwa beban emisi karbon global dalam industri apparel ternyata terkonsentrasi pada sejumlah kecil pabrik berukuran besar yang memiliki konsumsi energi sangat tinggi.
Pabrik-pabrik tersebut menghasilkan polusi jauh lebih besar dibandingkan fasilitas produksi lainnya.
Perbaikan Pabrik Besar Dinilai Lebih Efektif
Karena itu, laporan Cascale menyebut upaya perbaikan yang difokuskan pada pabrik-pabrik besar tersebut berpotensi memberikan dampak lebih cepat dalam menurunkan emisi global dibandingkan pendekatan yang dilakukan secara merata pada seluruh fasilitas produksi.
“Laporan ini menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas untuk menurunkan emisi karbon,” ujar Jeremy Lardeau, Senior Vice President Higg Index di Cascale.
Kerja Sama Seluruh Rantai Produksi
Menurut Lardeau, kemajuan nyata hanya bisa dicapai melalui kerja sama di seluruh rantai pasok industri, bukan sekadar perpindahan merek pakaian dari satu pabrik ke pabrik lainnya.
Ia menambahkan, investasi besar yang dibutuhkan untuk dekarbonisasi di tingkat pabrik menuntut keterlibatan langsung dari merek-merek pakaian dalam proses transisi energi.
Emisi Industri Pakaian Justru Meningkat
Temuan Cascale ini sejalan dengan laporan Apparel Impact Institute yang dirilis pada Juli 2025. Organisasi tersebut mencatat emisi gas rumah kaca dari sektor pakaian meningkat 7,5 persen dalam periode 2022 hingga 2023.
Sementara itu, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis pada akhir 2025 menunjukkan emisi gas rumah kaca global mencapai rekor baru 57,7 gigaton pada 2024, naik 2,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketergantungan pada Batu Bara
Salah satu hambatan terbesar dalam upaya pengurangan emisi adalah ketergantungan industri apparel pada batu bara. Sumber energi ini menyumbang sekitar 31 persen dari total konsumsi energi sektor tersebut.
Batu bara juga menjadi sumber energi terbesar bagi pemasok tier 2, yaitu pabrik yang memproduksi kain sebelum diproses menjadi pakaian. Pada tahap ini, batu bara menyumbang sekitar 40 persen dari konsumsi energi global.
Energi Terbarukan Masih Sangat Minim

Meski semakin banyak pabrik melaporkan penggunaan energi terbarukan, kontribusi energi bersih di industri ini masih sangat kecil. Energi terbarukan hanya mencakup sekitar 2 persen dari total konsumsi energi sektor apparel.
Bahkan, angka tersebut tidak mengalami peningkatan antara 2023 dan 2024.
Transisi Energi Belum Cukup
Para peneliti menilai bahwa sekadar mengganti batu bara dengan energi terbarukan tidak cukup untuk memenuhi target iklim global. Hal ini disebabkan oleh tingginya intensitas karbon dalam jaringan listrik di negara-negara produsen utama pakaian.
Kondisi tersebut membuat proses dekarbonisasi industri apparel membutuhkan transformasi yang jauh lebih menyeluruh di sektor energi dan manufaktur.* (Sumber: Cascale)
