Proyek Karbon Mau Cair Dananya? Bank Minta Kontrak yang Anti Ribet

ATKARBONIST – Bagi para pengembang proyek kredit karbon, mendapatkan kucuran dana dari bank besar sepertinya bakal makin menantang.
JPMorgan Chase & Co. baru saja memberikan peringatan keras, jika kontrak pembelian kalian masih “abu-abu”, jangan harap petugas kredit mau kasih lampu hijau.
Kenapa Perbankan Mulai “Jual Mahal”?
Dalam acara Carbon Forward Asia di Singapura Rabu (25/3/2026), Genevieve Ding, Head of Sustainability Asia Pacific JPMorgan, blak-blakan soal ketidaksukaan bank terhadap ketidakpastian.
Menurutnya, bank adalah institusi yang sangat alergi terhadap risiko yang belum teruji.
“Kalau kontraknya samar dan cuma modal ‘omongan masa depan’, petugas kredit bakal merasa nggak nyaman. Intinya, bank butuh kepastian,” tegas Ding, dikutip dari Bloomberg.
Resep Memikat Investor dan Bank
Agar proyek karbon dilirik, Ding menyarankan beberapa poin krusial yang harus ada dalam kontrak:
- Komitmen Jangka Panjang: Gunakan multi-year purchase agreements (perjanjian pembelian multi-tahun).
- Masa Tenggang Legal: Cantumkan aturan hukum jika ada keterlambatan pengiriman kredit.
- Klausul Penggantian: Harus jelas siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana mekanismenya jika kredit gagal cair tepat waktu.
- Batas Kewajiban: Tentukan plafon maksimal kewajiban finansial agar risiko lebih terukur.
Bayang-bayang Greenwashing & Kasus Koko Networks

Pasar karbon saat ini memang sedang dalam masa pemulihan kepercayaan setelah diterpa isu greenwashing.
Bank kini jauh lebih selektif karena tak mau reputasi mereka ikut terseret proyek bermasalah.
Kasus bangkrutnya Koko Networks Ltd., perusahaan clean cooking, menjadi pengingat pahit bagi industri setelah menyebabkan kerugian investor hingga US$300 juta.
Selain itu, masalah teknis, birokrasi, risiko politik, hingga fluktuasi mata uang seringkali membuat biaya pembiayaan jadi melonjak mahal.
Strategi JPMorgan
JPMorgan sendiri tidak mau asal pilih. Mereka hanya masuk ke proyek yang punya jalur operasional komersial yang jelas. Meski begitu, komitmen mereka tidak main-main:
- Investasi Masif: Pada 2023, mereka berkomitmen senilai US$200 juta untuk teknologi penarikan karbon dari udara (direct air capture).
- Dukungan Startup: Termasuk pembelian senilai US$20 juta dari Climeworks (Swiss), meski sektor ini juga sedang menghadapi tantangan efisiensi tenaga kerja.* (Sumber: Bloomberg)
