Sambut Indonesia Emas 2045, Ekonomi Hijau Diproyeksi Pasok Jutaan Green Jobs

ATKARBONIST – Akselerasi transformasi ekonomi hijau di Indonesia tidak hanya menjadi tameng terhadap perubahan iklim, melainkan juga mesin pertumbuhan ekonomi baru. Langkah strategis ini diproyeksikan mampu membuka jutaan lapangan kerja baru berbasis lingkungan atau green jobs di berbagai sektor, sekaligus memperkokoh fondasi pembangunan berkelanjutan nasional.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Jumhur Hidayat, mengungkapkan bahwa kebutuhan akan profesi ramah lingkungan bakal melonjak tajam. Transformasi ini memicu lahirnya berbagai spesialisasi baru yang sebelumnya jarang tersentuh.
“Profesi seperti ahli energi terbarukan, pengelola sampah modern, insinyur lingkungan, peneliti biodiversitas, perencana kota hijau, analis karbon (carbon analyst), spesialis ekonomi sirkular, hingga wirausaha hijau akan semakin dicari,” ujar Jumhur dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).
Menurut Jumhur, lonjakan permintaan tenaga kerja hijau ini selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Visi tersebut menempatkan keberlanjutan ekologis sebagai pilar utama demi mewujudkan target Indonesia Emas 2045 melalui penciptaan lapangan kerja yang inklusif dan berkeadilan.
“Kita juga akan memastikan bahwa green jobs merupakan pekerjaan yang layak, memberikan perlindungan tenaga kerja, kesejahteraan, dan kesempatan yang adil bagi masyarakat. Masa depan ekonomi dunia tidak hanya digital, tetapi juga hijau. Future jobs are green jobs,” tegas mantan Kepala BNP2TKI tersebut.
Menantang Gen Z Jadi Agen Inovasi
Menghadapi tren global ini, Jumhur mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), untuk tidak sekadar menjadi penonton. Ia mendorong anak muda mengambil peran sentral sebagai motor penggerak transformasi ekonomi.
Menurutnya, modal kepedulian lingkungan yang dimiliki Gen Z saat ini harus dikonversi menjadi tindakan konkret dan inovasi yang solutif.
“Gen Z adalah generasi solusi. Tugas kita sekarang adalah mengubah kepedulian itu menjadi aksi nyata. Dari sekadar awareness menjadi movement, dari kepedulian menjadi inovasi, dan dari diskusi menjadi solusi,” imbuh Jumhur.
Posisi Strategis dan Target Pengelolaan Sampah 2029
Indonesia sendiri memegang posisi tawar yang sangat kuat dalam agenda iklim global. Status sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kawasan mangrove yang membentang luas, kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah, serta garis pantai terpanjang kedua di dunia, menjadikan Indonesia sebagai paru-paru krusial bagi bumi.
Jumhur optimistis, jika Indonesia mampu mengoptimalkan perlindungan hutan, lahan gambut, mangrove, laut, serta tata kelola sampah, dampak positifnya tidak hanya dirasakan secara domestik, tetapi juga secara global.
Sebagai langkah konkret jangka pendek, Pemerintah memasang target ambisius: 100 persen sampah terkelola dengan baik pada tahun 2029. Target ini akan dikejar melalui penguatan sistem ekonomi sirkular dan optimalisasi teknologi pengolahan sampah modern. Beberapa teknologi yang siap digenjot pengaplikasiannya antara lain:
Refuse Derived Fuel (RDF): Mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL): Konversi limbah menjadi pasokan listrik.
Teknologi Pirolisis: Dekomposisi sampah secara termal untuk menghasilkan sumber daya baru bernilai ekonomi.
Melalui lompatan teknologi dan tata kelola material yang lebih baik ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai residu, melainkan sebagai komoditas yang membuka ruang bagi tumbuhnya industri dan profesi baru masa depan.*
Sumber: Kemenlh
