Dampak Pemanasan Global terhadap Badai Tropis dan Perubahan Pola Cuaca Dunia
Atkarbonist.ORG – Perubahan iklim terus berkembang, dan pemahaman kita terhadap dampaknya juga semakin dalam.
Kompleksitas dari fenomena ini – yang mencakup berbagai faktor saling terkait dan saling memengaruhi – membuat pengidentifikasian risiko menjadi lebih menantang.
Akibatnya, beberapa risiko mungkin baru disadari setelah dampaknya terasa secara nyata dan diteliti lebih lanjut.
Menurut laporan Sixth Assessment Report (2021) dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), peningkatan emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia terbukti telah memperparah frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.
Badai Tropis Semakin Kuat
Salah satu dampak utama perubahan iklim adalah meningkatnya suhu permukaan laut dan kandungan uap air di atmosfer. Kedua elemen ini merupakan kunci pembentukan dan penguatan badai tropis seperti siklon dan topan.
Selain memengaruhi badai tropis secara langsung, perubahan iklim juga berdampak pada pola iklim global yang mendukung pembentukan badai, seperti fenomena El Niño dan La Niña di Samudra Pasifik serta emisi debu dari Gurun Sahara.
Berikut beberapa perubahan signifikan akibat perubahan iklim:
- Intensitas badai tropis secara global diperkirakan meningkat 1% hingga 10%, sehingga memperbesar potensi kerusakan per badai.
- Peluang terjadinya penguatan cepat (rapid intensification) pada badai tropis juga semakin tinggi.
- Peningkatan jumlah badai tropis yang mencapai kategori 4 dan 5 dalam skala angin Saffir-Simpson.
- Pergeseran wilayah pembentukan badai semakin menjauh dari ekuator seiring meningkatnya suhu laut – fenomena ini sudah teramati di wilayah barat laut Pasifik.
- Hujan lebat yang lebih intens meningkatkan risiko banjir pesisir akibat gelombang badai (storm surge).
Usulan Kategori Baru untuk Badai: Kategori 6

Karena badai kini semakin kuat, para peneliti mengusulkan penambahan Kategori 6 dalam skala Saffir-Simpson.
Dalam proposal ini, batas atas Kategori 5 diusulkan pada kecepatan angin berkelanjutan 86 m/s (309 km/jam), sementara badai di atas kecepatan ini diklasifikasikan sebagai Kategori 6.
Contoh nyata seperti Topan Haiyan (2013) menunjukkan bahwa badai dengan kekuatan luar biasa tidak lagi menjadi kejadian langka.
Dari lima badai yang memenuhi syarat sebagai Kategori 6 sejak 1980, semuanya terjadi dalam 9 tahun terakhir mencerminkan tren yang mengkhawatirkan akibat pemanasan global.
Badai Non-Tropis dan Pergeseran Pola Cuaca
Perubahan iklim tidak hanya memengaruhi badai tropis, tetapi juga badai non-tropis seperti badai musim dingin dan badai lintang menengah. Beberapa perubahan yang diamati meliputi:
Pergeseran lintasan badai ke arah kutub sejak tahun 1990-an, yang berarti badai kini muncul di wilayah yang sebelumnya jarang terdampak.
Perubahan tinggi gelombang laut signifikan (Significant Wave Height/SWH): berkurang di beberapa wilayah (seperti utara Inggris), namun meningkat di area lain (seperti selatan Inggris).
Gelombang ekstrem diperkirakan akan semakin tinggi, meskipun rata-rata tinggi gelombang di beberapa wilayah mungkin menurun.
Hal ini membawa implikasi serius bagi dunia pelayaran dan logistik laut. Kapal kini berisiko menghadapi badai yang lebih ganas dan tidak terduga, dengan rute yang menyimpang dari pola historis.
Oleh karena itu, strategi mitigasi risiko cuaca ekstrem harus diperbarui dan diperkuat.
Perubahan iklim telah terbukti meningkatkan intensitas dan ketidakpastian fenomena cuaca ekstrem seperti badai tropis dan non-tropis.
Dengan meningkatnya risiko terhadap keselamatan jiwa, properti, dan aktivitas ekonomi seperti pelayaran, pemantauan cuaca, perencanaan mitigasi, serta kebijakan iklim yang adaptif menjadi lebih penting dari sebelumnya.(*Sumber: britanniapandi.com)
