Dampak Perubahan Iklim Turunkan Produksi Kopi Gayo Hingga 50 Persen, Petani Gencar Terapkan Praktik Berkelanjutan

Biji kopi Gayo berwarna merah cerah yang telah matang dan siap dipanen di perkebunan dataran tinggi Aceh Tengah

Atkarbonist.ORG – Perubahan iklim yang kian tak menentu memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian, termasuk di wilayah dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Para petani kopi di kawasan ini mengalami penurunan hasil panen yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Imran, salah satu petani kopi Gayo, menyampaikan tren penurunan produksi mulai terasa sejak tahun 2016.

“Itu (perubahan iklim) banyak berpengaruh. Dari sebelum 2016 produksinya 70.000-80.000 ton per tahun. Delapan tahun belakangan ini, 30.000-40.000 ton, separuhnya hilang,” ujar Imran, Rabu (14/5/25).

Ia menambahkan ketidakpastian cuaca dan peningkatan suhu global membuat tanaman kopi semakin rentan terhadap serangan hama.

“Pemanasan global berpengaruh ke penyakit pengerek buah yang cepat. Sangat rentan dia, itu masalahnya yang kami hadapi sebagai petani di Gayo,” jelasnya.

Kondisi iklim yang tidak stabil seperti curah hujan yang sulit diprediksi juga turut mempersulit proses budidaya kopi. Imran mengatakan, “Pengaruh faktor alam, curah hujan tinggi dan enggak menentu. Dulu bisa diperkirakan bulan Desember, Oktober, November hujan. Sekarang enggak ada lagi. Ini contohnya Mei, Juni sudah hujan.”

Padahal, kopi arabika khas Gayo tumbuh optimal pada suhu sejuk yang stabil di ketinggian 1.300 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut.

Perubahan iklim yang ekstrem memengaruhi kualitas dan kuantitas produksi biji kopi secara signifikan.

Untuk menjawab tantangan ini, para petani bersama mitra internasional dan pemerintah mulai menerapkan program pertanian berkelanjutan.

Kerja sama ini melibatkan World Resource Institute (WRI), HSBC, serta pihak pemerintah, guna mengembangkan praktik budidaya ramah lingkungan.

Produksi kopi Gayo menurun akibat perubahan iklim. Petani terapkan pertanian berkelanjutan untuk menjaga kualitas dan hasil panen.
Produksi kopi Gayo menurun akibat perubahan iklim. Petani terapkan pertanian berkelanjutan untuk menjaga kualitas dan hasil panen. (Foto: Dok. LintasGayo)

Tomi Haryadi, Direktur Program Pangan, Lahan, dan Air WRI, menjelaskan inisiatif ini berlangsung selama periode 2025 hingga 2027, dengan fokus pada penerapan good agricultural practices di Desa Bale Redelong.

“Beberapa intervensi seperti perhutanan sosial, agroforestri, good agricultural agroforestry practices yang dikerjakan merupakan salah satu intervensi yang kami lakukan untuk memastikan bahwa konservasi hutan tetap terjaga,” papar Tomi.

Selain itu, WRI juga berupaya mengatasi persoalan sampah organik dari limbah kopi yang selama ini sering dibakar dan mencemari lingkungan.

“Kami melakukan intervensi mencegah terjadinya sampah yang tidak terkendali. Ini sering terjadi karena sampah dari buangan kopi seringnya dibakar dan menimbulkan pencemaran,” tambahnya.

Langkah-langkah ini juga diarahkan untuk memanfaatkan potensi hasil hutan non-kayu dan menurunkan emisi gas rumah kaca.

Keterlibatan perempuan dan pemuda dalam proses pengolahan kopi turut menjadi bagian dari strategi peningkatan produktivitas.

Dengan pendekatan ini, produktivitas kopi ditargetkan bisa meningkat secara signifikan, bahkan mencapai 1,2 hingga 2 juta ton per hektare.

“Dengan pendekatan ini, kami berharap pasar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi komunitas petani, sekaligus mendukung konservasi hutan dan pengurangan emisi gas rumah kaca,” tutup Tomi.(*Sumber: Kompas.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *