Indonesia terus Perkuat Perdagangan Karbon dan Energi Bersih Demi Capai NZE 2060
Atkarbonist.ORG – Upaya Indonesia dalam mencapai target net zero emission (NZE) 2060 semakin menunjukkan kemajuan.
Kesadaran terhadap pentingnya perdagangan karbon dan pemanfaatan energi bersih terus tumbuh, baik di level pemerintah maupun sektor swasta.
Hal ini disampaikan Direktur Utama Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Fajar Wibhiyadi, dalam ajang Energi Mineral Festival 2025 yang mengusung tema “Swasembada Energi: Masa Depan Indonesia” di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Rabu (30/7/25).
Menurut Fajar, perdagangan karbon serta penggunaan sertifikat energi terbarukan seperti LEC dan REC merupakan bagian dari kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan global.
Ia menyebutkan bahwa isu ini tak lagi sekadar soal biaya, tetapi komitmen jangka panjang untuk menyelamatkan bumi.
“Ini bukan soal mahal atau murah. Ini soal tanggung jawab kolektif terhadap masa depan,” tegasnya.
Fajar juga menekankan pentingnya kesadaran dan keterlibatan semua pihak dalam mendorong transisi menuju energi bersih.
Menurutnya, transisi ini tidak bisa ditunda lagi, karena seluruh sistem energi akan berubah cepat, didorong oleh tren global dan regulasi yang semakin ketat.
“Pilihannya hanya dua: sadar secara sukarela atau menunggu dipaksa oleh kebijakan. Kalau kita tidak mulai sekarang, kita akan ketinggalan,” jelas Fajar.
Ia mengungkapkan bahwa perdagangan karbon tidak hanya mendukung aksi lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi pembangunan ekonomi hijau.
Fajar mencontohkan bahwa perusahaan yang mengoperasikan pembangkit energi terbarukan, seperti PLTS, bisa memperoleh manfaat ganda: pendapatan dari listrik yang dihasilkan dan dari penjualan sertifikat energi terbarukan.
“Nilai ekonominya bukan hanya dari listrik, tapi juga dari sertifikatnya. Ini bisa menjadi insentif kuat bagi investor di sektor energi hijau,” katanya.
Fajar optimis bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan tetap mendukung pengembangan energi terbarukan secara konsisten.

Ia merujuk pada pidato pelantikan presiden yang secara tegas menyebutkan prioritas pembangunan energi baru terbarukan sebagai langkah menuju kemandirian energi nasional.
“Fokusnya adalah swasembada energi berbasis EBT, sejalan dengan visi besar Indonesia,” tambahnya.
Di akhir paparannya, Fajar menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya menjadi kewajiban moral dan lingkungan, tetapi juga merupakan peluang strategis dalam memperkuat struktur ekonomi dan pembiayaan hijau di Indonesia.
“Ini adalah momentum untuk membangun perekonomian nasional yang kuat, kompetitif, dan berkelanjutan,” tutupnya.* (Sumber: eNBeIndonesia)
