Kota Bandung Targetkan Olah 30 Persen Sampah Mandiri pada Februari 2026

Bandung, ATKARBONIST – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mematok target ambisius untuk mengelola secara mandiri sekitar 30 persen dari total timbulan sampah pada Februari 2026 mendatang.
Langkah ini diambil sebagai respons atas terbatasnya kuota pengiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Dengan estimasi volume sampah mencapai 1.500 ton setiap harinya, Pemkot Bandung berupaya agar hampir 500 ton di antaranya dapat diselesaikan di tingkat kota.
Meski begitu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui bahwa tantangan besar masih membentang karena mayoritas sampah belum tertangani sepenuhnya.
“Artinya, dari total timbulan sampah sekitar 1.500 ton per hari, hampir 500 ton dapat ditangani, meskipun masih menyisakan pekerjaan rumah sekitar 70 persen atau hampir 1.000 ton per hari,” ujar Farhan di Bandung, Senin (5/1/26).
Optimalisasi Teknologi dan Strategi Bertahap

Saat ini, efektivitas pengolahan sampah di Bandung baru menyentuh angka 20 persen atau setara 320 ton per hari melalui pemanfaatan berbagai teknologi.
Farhan menekankan peningkatan kapasitas ini harus dilakukan secara konsisten dan tidak bisa instan.
Ia menggarisbawahi bahwa penyelesaian krisis sampah memerlukan sinergi berbagai metode.
“Tidak ada satu solusi ajaib dalam penanganan sampah. Dibutuhkan langkah-langkah yang terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.
Gerakan Satu Petugas Satu RW
Sebagai strategi penguatan dari hulu, Pemkot Bandung bersiap meluncurkan inisiatif baru dengan menempatkan satu petugas pemilah dan pengolah sampah di setiap Rukun Warga (RW).
Sebanyak 1.597 petugas akan dikerahkan untuk memberikan pendampingan langsung agar masyarakat mulai memisahkan sampah sejak dari rumah tangga.
Program ini mematok target spesifik: setiap RW diharapkan mampu mereduksi minimal 25 kilogram sampah organik per hari. Sampah tersebut nantinya akan diangkut secara terpisah dari kategori anorganik maupun residu.
“Jika target ini tercapai di seluruh RW, Kota Bandung berpotensi mengurangi hingga 40 ton sampah organik per hari yang sebelumnya dibuang ke TPA,” pungkas Farhan.* (Sumber: Republika.co.id)
