Kredit Karbon Transisi Jadi Peluang Emas bagi Asia Tenggara di Tengah Ketergantungan pada Batu Bara

Emisi karbon dari pembangkit batu bara menjadi kontributor utama polusi di Asia Tenggara, dorong urgensi transisi energi bersih.

Atkarbonist.ORG – Asia Tenggara yang selama ini mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama, kini memiliki peluang besar dalam perdagangan karbon global.

Hal ini menyusul disetujuinya metode perhitungan kredit karbon transisi oleh badan standardisasi internasional Verra, yang membuka pintu bagi kawasan ini untuk memainkan peran strategis dalam pasar karbon sukarela.

Metodologi baru ini memungkinkan pemberian kredit karbon atas pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.

Dengan panduan ini, proyek pengurangan emisi dari penghentian operasional PLTU dapat dihitung secara sistematis.

Setiap ton emisi karbon dioksida (CO₂) yang berhasil dihindari akan dikonversi menjadi satu kredit karbon transisi.

Kredit-kredit ini dapat dibeli oleh perusahaan yang tengah mengejar target net-zero atau digunakan oleh pemerintah untuk mendukung pencapaian target iklim nasional sesuai Perjanjian Paris 2015.

“Bagi Asia Tenggara, metodologi ini memperkuat ambisi untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan karbon global,” tulis Analis BloombergNEF, Joy Foo, dalam laporannya yang dikutip pada Minggu (25/5/2025).

Asia Tenggara Semakin Berperan di Pasar Karbon Global

Hingga saat ini, Asia Tenggara telah menyumbang sekitar 4% dari penerbitan kredit karbon secara global, dan 17% dari total penggunaan kredit karbon (retirement) di dunia tahun ini berasal dari kawasan ini.

Potensi kawasan ini semakin besar mengingat dominasi PLTU dalam bauran energi listrik. Pada 2023, sekitar 471 PLTU aktif menyumbang 43,5% dari total pembangkitan listrik, naik drastis dari 19,7% pada tahun 2000.

Di Indonesia sendiri, batu bara masih menjadi sumber energi termurah dalam satu dekade terakhir.

Analisis BloombergNEF mencatat biaya operasional PLTU konvensional 66%–70% lebih murah dibandingkan pembangkit tenaga surya dan angin darat dalam hal levelized cost of energy (LCOE).

“Melimpahnya pasokan batu bara murah di Asia Tenggara memberi sinyal potensi kawasan ini dalam menghasilkan kredit transisi,” lanjut Joy Foo.

Tantangan Kualitas Kredit dan Standarisasi

Namun, meski peluang besar terbuka, pasar kredit transisi masih menghadapi tantangan dalam hal validitas dan integritas. Ketiadaan praktik terbaik dalam mekanisme perdagangan karbon menimbulkan kekhawatiran atas kualitas kredit yang beredar.

“Ketiadaan praktik terbaik [perdagangan karbon] saat ini membuat kekhawatiran terhadap integritas kredit sulit dihilangkan. Hal ini menjadi hambatan dalam membangun kepercayaan pembeli yang diperlukan untuk menarik lebih banyak pelaku pasar,” tulis BloombergNEF.

Untuk mengatasi isu ini, panduan lebih lanjut dari forum seperti perundingan iklim PBB dan Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) sangat dinantikan guna merumuskan definisi kredit berkualitas tinggi.

Pasar Karbon Sukarela Asia Pasifik Bangkit

Emisi karbon dari pembangkit batu bara menjadi kontributor utama polusi di Asia Tenggara, dorong urgensi transisi energi bersih.
Emisi karbon terbesar di Asia Tenggara sebagian besar berasal dari proses pembakaran pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. (Sumber: Bloomberg – Krisztian Bocsi)

Di tengah tantangan tersebut, kabar baik datang dari pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) Asia Pasifik yang menunjukkan pemulihan signifikan pada April 2025. Menurut BloombergNEF (BNEF), baik dari sisi penawaran maupun permintaan, pasar mencatat lonjakan signifikan.

Pasokan kredit karbon naik 110% secara bulanan menjadi 8,27 juta ton setara CO₂, menyumbang sekitar 34% dari total pasokan global. Thailand menunjukkan performa impresif dengan melonjak ke posisi ketiga penerbit terbesar di kawasan, dari posisi kedelapan bulan sebelumnya.

Sebagian besar kredit berasal dari proyek pembangkitan energi (93%), sementara sisanya dari sektor transportasi. Meski terdapat kekhawatiran soal integritas proyek energi, sektor ini tetap dominan, menghasilkan tambahan 5,52 juta kredit selama April.

Sementara itu, permintaan (retirement) juga meningkat 53% menjadi 7,53 juta, mencakup separuh dari total global. EnergyAustralia tercatat sebagai pembeli terbesar dengan penggunaan 640.000 kredit dari proyek emisi di Bangladesh.

“India tetap menjadi pasar terbesar untuk penggunaan kredit, dengan 1,45 juta digunakan di bulan yang sama,” bunyi laporan tersebut.

Harga kredit proyek energi juga melonjak dua kali lipat dibandingkan bulan Maret, yang menunjukkan minat pasar semakin tinggi, meskipun peningkatan nilai lebih dipengaruhi oleh transaksi bernilai tinggi.(*Sumber: Bisnis.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *