Pertamina dan Danantara Bahas Konsolidasi BUMN, Target Tinggal 200 Perusahaan
Atkarbonist.ORG – PT Pertamina (Persero) menyatakan siap terlibat dalam kajian konsolidasi besar-besaran badan usaha milik negara (BUMN) yang tengah digagas Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan pihaknya akan mengikuti langkah yang digariskan Danantara.
“Ya itu nanti kami kaji bersama, kami ikut dengan Danantara, dan strategi besarnya tadi ada tiga, yaitu restructuring, business streamlining, dan business development. Itu kami ikut sama mereka (Danantara),” kata Agung di Jakarta, Sabtu (23/8) dikutip Antara.
Rencana konsolidasi ini sebelumnya dipaparkan oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria.
Ia menyebutkan jumlah BUMN beserta anak usahanya yang kini mencapai lebih dari 800 perusahaan akan dirampingkan menjadi sekitar 200 saja.
Menurut Dony, langkah tersebut membuat BUMN lebih fokus pada bisnis inti masing-masing sehingga kinerja perusahaan menjadi lebih sehat dan kuat.
Sebagai contoh, Pertamina yang bisnis utamanya berada di sektor minyak dan gas, saat ini juga memiliki unit usaha di bidang rumah sakit hingga agen perjalanan.
Dony menilai pengembalian perusahaan ke core business akan membuat pengelolaan lebih efisien dan berdaya saing.
Agung pun menilai rencana ini merupakan bagian dari transformasi penting. Ia mencontohkan regulasi yang mewajibkan satu perusahaan untuk setiap wilayah kerja migas.
“Jadi setiap Pertamina eksplorasi lapangan minyak baru, ada perusahaan baru. Ini sekarang mungkin sudah tidak lagi terlalu relevan,” ujarnya.
Terkait bisnis non-core seperti rumah sakit, Agung menjelaskan diskusi dengan Danantara dan pemegang saham holding PT Pertamina Bina Medika IHC terus berjalan untuk menentukan langkah ke depan.
Efisiensi Sektor Logistik dan Asuransi

Dony menjelaskan konsolidasi juga akan menyasar sektor logistik dan asuransi. Dari sisi logistik, tercatat ada 18 BUMN dengan kapasitas kecil dan belum mampu bersaing. Demikian pula di sektor asuransi, terdapat 16 BUMN yang dinilai terlalu kecil untuk kompetitif.
“Misalkan logistik ada Angkasa Pura Logistik, Pos Logistik, Kereta Api Logistik, Pelindo Logistik, Semen Logistik, semua punya,” ujarnya.
Dalam tahap awal, Danantara sudah melakukan fundamental business review. Selanjutnya, akan dilakukan merger atau penggabungan perusahaan dengan lini bisnis serupa agar terbentuk entitas yang lebih kuat.
“Kita melakukan pengkonsolidasian daripada bisnis kita. Yang tadinya logistik ada 18 perusahaan nanti menjadi satu perusahaan logistik yang size-nya cukup besar, kompetitif, mampu bersaing. Kemudian juga memberikan nilai tambah yang signifikan buat Danantara,” kata Dony.
Target konsolidasi ini akan memangkas jumlah BUMN dari 888 perusahaan menjadi di bawah 200.
Sektor perhotelan juga menjadi perhatian, di mana sekitar 130 hotel BUMN akan disatukan dalam satu holding sehingga berpotensi menjadi operator hotel terbesar kedua di Indonesia.
Pada tahun 2025, Danantara menargetkan konsolidasi 4–5 sektor, termasuk konstruksi, properti, logistik, dan karya.
“Jadi, nanti perusahaan tol ya tol, perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor ya kontraktor. Properti ya properti. Nah ini akan terjadi proses yang signifikan dan luar biasa di dalam tata kelola perusahaan-perusahaan kita ke depan,” pungkas Dony.* (Sumber: ANTARA)
