TPS3R Lenteng Agung Diresmikan, Wamen KLH Diaz Hendropriyono: Ancaman Mikroplastik Sudah Masuk Tubuh Manusia

Kehadiran TPS3R Lenteng Agung dinilai menjadi bagian krusial dari percepatan target Indonesia Bebas Sampah 2029. Wamen Diaz menjelaskan bahwa TPS3R kini didorong oleh pemerintah sebagai pelengkap program Waste to Energy (WTE).
Wamen Diaz (kedua dari kiri) menjelaskan TPS3R kini didorong oleh pemerintah sebagai pelengkap program Waste to Energy (WTE). (Foto: Dok. Kemenlh.go.id)

JAKARTA, ATKARBONIST.ORG – Indonesia menghadapi krisis sampah plastik yang serius, di mana fragmen mikro dan nano plastik kini ditemukan dalam darah hingga air susu ibu.

Menanggapi ancaman ini, Tempat Pengelolaan Sampah Reduce–Reuse–Recycle (TPS3R) Sinergi Bersih di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, resmi beroperasi sebagai langkah konkret kolaboratif untuk memperkuat pengelolaan sampah perkotaan.

Peresmian fasilitas itu pada Kamis (27/11/25) yang didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nestlé Indonesia, WWF Indonesia, dan Waste4Change, dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono.

Bahaya Nano Plastik: Isu Lingkungan Merambah Kesehatan Publik

Dalam sambutannya, Wamen Diaz Hendropriyono mengatakan bahwa timbunan sampah plastik yang mencapai puluhan juta ton per hari dan tidak dapat terurai secara alami merupakan situasi serius bagi Indonesia. Ia menyoroti proses degradasi plastik yang semakin mengancam kesehatan publik.

“Sampah plastik di mana-mana, dari makro ke mikro, dari 5 mm ke 1 mm, dan setelah ratusan tahun menjadi nano plastik yang terus terdegradasi menjadi partikel lebih kecil lagi,” ujar Wamen Diaz dilansir dari Siaran Pers kemenlh.go.id, Senin (1/12/25).

Menurut Wamen Diaz, ancaman mikro dan nano plastik bukan lagi persoalan lingkungan semata, melainkan sudah menjadi isu kesehatan publik. Partikel-partikel kecil ini telah terintegrasi ke dalam berbagai media, termasuk tubuh manusia.

“Saat ini mikro plastik dan nano plastik sudah masuk tubuh kita, sudah ada di darah dan air susu ibu bahkan di plasenta bayi. Jadi anak-anak kita nanti sudah ada konsumsi mikro plastik,” tegasnya, memperingatkan dampak jangka panjang pada generasi mendatang.

TPS3R Jadi Kunci Percepatan Indonesia Bebas Sampah 2029

Kehadiran TPS3R Lenteng Agung menjadi bagian penting dari upaya pemerintah untuk mencapai target Indonesia Bebas Sampah 2029.

Wamen Diaz menjelaskan bahwa TPS3R sedang didorong oleh pemerintah sebagai pelengkap program Waste to Energy (WTE) yang juga sedang diperkuat.

“KLH sedang mendorong TPS3R di seluruh Indonesia. Kami telah mengusulkan 1000 TPS3R dan sedang direkap ulang termasuk untuk revitalisasi TPS3R,” tambah Wamen Diaz.

Lebih lanjut, ia menyoroti keterkaitan erat antara pengelolaan sampah yang buruk dengan kualitas air nasional. Berdasarkan data KLH, dari 2.475 sungai dan danau yang diteliti, hanya 27 persen yang tidak tercemar.

“Sisanya 73 persen tercemar. Jadi jangan sampai sampah ini mencemari sungai dan danau, karena nanti air bersih lagi yang menjadi masalah,” ujarnya.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengelolaan Sampah Hulu

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya, mengingat timbulan sampah yang terus meningkat dan membebani TPA Bantar Gebang.

“Timbulan sampah yang terus meningkat membuat kapasitas TPA Bantar Gebang semakin terbatas. Karena itu, pengelolaan sampah dari hulu menjadi semakin penting agar kita dapat menghadirkan perubahan bagi masa depan Jakarta,” jelasnya.

Sementara itu, President Director Nestlé Indonesia, Georgios Badaro, menegaskan komitmen perusahaan untuk menciptakan nilai bersama.

“Saya berharap inisiatif ini dapat menginspirasi lebih banyak kolaborasi lintas sektor antara pemerintah dan dunia usaha. Mari kita terus bekerja bersama untuk menciptakan masa depan di mana pertumbuhan dan keberlanjutan dapat berjalan berdampingan,” kata Badaro.

Kapasitas dan Mekanisme TPS3R Lenteng Agung

TPS3R Sinergi Bersih Lenteng Agung memiliki kapasitas pengelolaan signifikan hingga 42 ton sampah per hari dan melayani 26 RW di lima kelurahan (Srengseng Sawah, Cipedak, Jagakarsa, Ciganjur, dan Lenteng Agung).

Proses pengelolaan sampah di fasilitas ini meliputi:

Penimbangan dan Pemilahan: Sampah masuk ditimbang dan dialirkan ke conveyor untuk dipilah oleh operator.

Pemanfaatan: Sampah dipilah menjadi tiga jenis utama:

Sampah bernilai ekonomis yang dijual ke offtaker.

Bubur organik untuk pembudidaya Black Soldier Fly (maggot).

Material untuk Refuse Derived Fuel (RDF) yang dimanfaatkan oleh industri semen.

Residu: Residu yang tidak dapat diolah akan dibawa ke TPA Bantar Gebang.

Peresmian ini diharapkan dapat memacu lebih banyak upaya pengurangan sampah plastik, menghambat polusi mikroplastik dan nano plastik, serta membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Acara ini juga dihadiri oleh Asisten Deputi Infrastruktur Kemenko Marves Ridha Yasser, Partnership Director WWF Indonesia Rusyda Deli, serta CEO dan Founder Waste4Change Bijaksana Junerosano.* (Sumber: kemenlh.go.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *