Lirik Pasar Global, PLN EPI Targetkan Ekspor 1 Juta Ton Biomassa Tahun Ini

Jakarta, ATKARBONIST – PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) kini resmi melebarkan sayapnya ke kancah internasional. Anak usaha PT PLN (Persero) tersebut mulai membidik pasar ekspor biomassa, memanfaatkan melimpahnya potensi bahan baku bioenergi di Tanah Air yang belum sepenuhnya terserap oleh kebutuhan domestik.
Tak tanggung-tanggung, PLN EPI mematok target ekspor hingga 1 juta ton biomassa sepanjang tahun 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya optimalisasi sumber daya hayati Indonesia yang sangat besar.
Mengincar Celah Pasar Global
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan keputusan ekspor ini muncul setelah melihat adanya surplus biomassa yang belum sanggup “ditelan” oleh program cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam negeri.
“Kalau kita bisa mengamankan ekspor sampai 1 juta ton tahun ini, itu sudah bagus. Saat ini yang sudah terkontrak sekitar 200.000 ton, jadi masih ada sekitar 800.000 ton lagi yang akan kita kejar,” ujar Hokkop dalam keterangan resminya dikutip Kamis (12/3/2026).

Komoditas utama yang menjadi andalan ekspor adalah cangkang sawit dan wood pellet. Data tahun 2025 menunjukkan pasar dunia sangat haus akan komoditas ini, dengan total ekspor nasional mencapai 10 hingga 12 juta ton dari berbagai pelaku usaha.
Disparitas Harga yang Menggiurkan
Salah satu pemicu kuat langkah ekspor ini adalah nilai ekonomi yang jauh lebih kompetitif. Di pasar domestik, biomassa untuk kebutuhan cofiring dibanderol sekitar Rp700.000 per ton. Namun, di pasar internasional, harganya bisa melonjak signifikan.
Cangkang sawit, misalnya, mampu menembus angka Rp1 juta hingga Rp1,3 juta per ton di pasar ekspor. Bahkan, dalam kondisi pasar tertentu, harganya bisa mencapai dua kali lipat harga lokal.
Komitmen Domestik Tetap Utama
Meski mulai melirik Polandia dan Jepang sebagai mitra pembeli, Hokkop menegaskan bahwa kebutuhan listrik nasional tetap menjadi prioritas utama. Perusahaan pun terus memacu penyerapan lokal untuk mendukung transisi energi.
Tercatat pada tahun 2025, realisasi penyerapan biomassa lokal berada di angka 2,4 juta ton. Untuk tahun 2026 ini, PLN EPI memasang target yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 3,65 juta ton. Peningkatan penyerapan domestik ini berjalan beriringan dengan ekspansi pasar luar negeri.
Ekspor dilakukan semata-mata karena spesifikasi mesin pembangkit domestik saat ini belum mampu menyerap seluruh jenis biomassa berkualitas tinggi.
“Mesin pembangkit kita tidak semuanya bisa menyerap biomassa tertentu, misalnya cangkang sawit atau pelet yang kualitasnya tinggi. Jadi sebagian yang tidak bisa terserap itu kita kumpulkan dan sementara diarahkan ke ekspor,” tutur Hokkop.
Hokkop optimis bahwa dengan kekayaan hayati dari sektor kehutanan dan perkebunan, Indonesia memiliki modal kuat untuk mendominasi peta energi hijau dunia.* (Sumber: Siaran Pers)
