Menteri Jumhur Tinjau Proyek PSEL Palembang, Fokus Percepatan Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik

ATKARBONIST – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh. Jumhur Hidayat meninjau langsung proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Palembang. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah mempercepat pengelolaan sampah modern sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih di Indonesia.
Dalam peninjauan itu, Menteri Jumhur menegaskan pentingnya percepatan penyelesaian proyek agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat luas.
“PSEL merupakan solusi strategis untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus menghasilkan energi listrik ramah lingkungan. Karena itu, percepatan penyelesaian proyek ini penting agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” ujar Jumhur.
Proyek PSEL yang berada di Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati, Palembang tersebut dikembangkan oleh PT Indo Green Power
Fasilitas ini dirancang mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dengan menggunakan teknologi Moving Grate Incinerator (MGI) berkonfigurasi 2 x 500 ton per hari.
Selain menjadi pusat pengolahan sampah modern, fasilitas yang dibangun di atas lahan sekitar 8,2 hektare itu juga dilengkapi pembangkit listrik berkapasitas sekitar 20 MW. Dari kapasitas tersebut, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan listrik hijau sebesar 17,7 MW dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2026.
Hingga Maret 2026, progres fisik pembangunan proyek dilaporkan telah mencapai sekitar 81,94 persen. Pemerintah berharap penyelesaian proyek dapat berjalan tepat waktu sehingga mampu menjadi salah satu solusi utama dalam mengurangi beban sampah perkotaan di Palembang.
Menteri Jumhur juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dalam mempercepat berbagai aspek pendukung proyek. Menurutnya, penyelesaian infrastruktur transmisi listrik hingga proses perizinan harus dilakukan secara sinergis agar operasional PSEL dapat berjalan optimal.
Ia turut menekankan keberhasilan pengolahan sampah menjadi energi sangat bergantung pada kualitas sampah yang masuk ke fasilitas. Sampah anorganik yang telah dipilah sejak dari sumber dinilai akan membuat proses pengolahan lebih efektif dan efisien.
Karena itu, masyarakat diharapkan mulai membangun kebiasaan memilah sampah sebagai bagian penting dari sistem pengelolaan sampah terintegrasi. Langkah tersebut dinilai tidak hanya mendukung operasional PSEL, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
KLH/BPLH menunjukkan komitmennya untuk terus mengawal pembangunan PSEL sebagai tonggak transformasi pengelolaan sampah menjadi energi terbarukan. Pemerintah juga berharap proyek ini dapat menjadi model pengelolaan sampah masa depan yang memiliki nilai ekonomi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.* (Kemenlh)
