Industri Baja Dorong Pemerintah Bentuk Pasar Baja Rendah Karbon

Industri baja nasional mendorong pembentukan pasar baja rendah karbon untuk memperkuat permintaan dan mempercepat investasi dekarbonisasi. (Foto: Ilustrasi)

Poin penting:

  • IISIA mendorong pemerintah membentuk pasar baja rendah karbon melalui pengadaan pemerintah.
  • Investasi dekarbonisasi industri baja diperkirakan meningkat sekitar 30%-70%.
  • Transformasi industri akan dilakukan bertahap melalui efisiensi, optimalisasi scrap, EAF, dan teknologi energi rendah karbon.

JAKARTA, ATKARBONIST – Industri baja nasional mendorong pemerintah segera membentuk pasar baja rendah karbon di dalam negeri guna memberikan kepastian permintaan sekaligus mendukung investasi dekarbonisasi yang dibutuhkan pelaku industri.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan industri baja pada prinsipnya siap bertransformasi menuju produksi rendah karbon. Namun, besarnya kebutuhan investasi menjadi tantangan ketika permintaan terhadap produk baja rendah karbon di pasar domestik belum terbentuk secara kuat.

“Kalau ditanya produsen besi baja ini mau tidak bertransformasi? Semua 1.000 persen pasti jawab mau. Tapi nanti pertanyaannya, yuk bertransformasi, diam. Kenapa? Karena bertransformasi ini tidak gampang dan mahal,” ujar Harry dalam diskusi Green Steel for Growth Convening 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurut Harry, sekitar 80% produksi baja nasional masih diserap pasar domestik. Kondisi tersebut membuat pembentukan pasar baja rendah karbon di Indonesia menjadi penting, terutama karena permintaan produk dengan jejak emisi lebih rendah saat ini berkembang lebih cepat di negara yang telah menerapkan kebijakan perdagangan berbasis emisi, termasuk Uni Eropa.

Pengadaan Pemerintah Jadi Pemicu Permintaan

IISIA mengusulkan pemerintah menggunakan belanja pengadaan barang dan jasa sebagai salah satu instrumen untuk menciptakan permintaan awal terhadap baja rendah karbon.

Harry menyebut alokasi sekitar 20% penggunaan baja rendah karbon dalam proyek pemerintah dapat menjadi salah satu opsi untuk mulai membangun pasar tersebut.

“Kita juga bingung mau ikut mana. Pemerintah itu langsung saja tambah 20% kalau ternyata steel-nya ada pangsa green-nya,” katanya.

Pengadaan pemerintah dinilai strategis karena pembangunan infrastruktur dan proyek konstruksi membutuhkan baja dalam jumlah besar. Dengan memasukkan aspek emisi dalam pengadaan, pemerintah berpotensi menjadi pembeli awal sekaligus memberikan sinyal pasar kepada produsen untuk melakukan investasi teknologi rendah karbon.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebelumnya juga menilai pengadaan pemerintah dapat digunakan sebagai instrumen pembentukan pasar baja rendah karbon. Meski demikian, penerapannya membutuhkan kesiapan regulasi, termasuk definisi baja rendah karbon, ambang batas emisi, metode pengukuran, serta sistem verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dekarbonisasi Baja Membutuhkan Investasi Besar

Selain persoalan permintaan, tingginya biaya transformasi menjadi tantangan utama industri baja. Ketua Tim Kerja Sama Internasional dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian Willy Fandri mengatakan kajian Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan transformasi menuju industri rendah karbon dapat meningkatkan kebutuhan investasi sekitar 30%-70%.

“Tidak kaleng-kaleng, banyak. Dekarbonisasi di sistem baja itu sangat costly, tinggi sekali,” ujar Willy.

Investasi tersebut mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari peningkatan efisiensi proses produksi, optimalisasi pemanfaatan scrap, elektrifikasi, pengembangan teknologi produksi rendah karbon, hingga pemanfaatan hidrogen dan teknologi penangkapan karbon.

Karena itu, Willy menilai dukungan pemerintah diperlukan untuk memperkecil kesenjangan pembiayaan sekaligus mempercepat pengembangan dan penerapan teknologi. Pemerintah juga mendorong skema pembiayaan seperti Green Industry Support for Commercialization (GISCO) untuk mendukung transformasi industri.

Transformasi Dilakukan Bertahap

Kementerian Perindustrian menilai peralihan menuju produksi baja rendah karbon perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi, investasi, dan fasilitas industri yang telah tersedia.

Pada tahap awal, industri dapat meningkatkan kinerja fasilitas eksisting melalui efisiensi energi dan penggunaan material. Langkah berikutnya dapat dilakukan melalui peningkatan pemanfaatan scrap dengan teknologi electric arc furnace (EAF), kemudian memperluas penggunaan teknologi produksi yang memanfaatkan sumber energi rendah karbon.

Pembentukan pasar domestik dinilai menjadi bagian penting dari proses tersebut. Kepastian permintaan dapat membantu industri menghitung kelayakan investasi, sementara kebijakan pengadaan pemerintah berpotensi menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat pertumbuhan pasar baja rendah karbon di Indonesia.*
Sumber: Kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *