
ATKARBONIST – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai keberadaan bursa karbon memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai ekonomi daerah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Upaya ini dilakukan dengan mendorong transformasi perusahaan beremisi tinggi menjadi entitas bisnis yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Kepala Direktorat Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Bayu Samodro, menjelaskan bahwa saat ini partisipasi dalam bursa karbon memang masih terbatas pada skala korporasi.
“Sebenarnya bursa karbon ini belum sampai ke ritel atau individu, melainkan lebih ke institusi di pasar karbon. Tapi edukasi mengenai ini terus kami sebarluaskan agar banyak yang memahami tentang bursa karbon,” ujar Bayu di Bandarlampung, Selasa.
Menurut Bayu, saat ini telah ada sejumlah emiten ramah lingkungan yang masuk dalam kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan-perusahaan publik tersebut secara konsisten melaporkan kinerja hijau mereka melalui sustainability report (laporan keberlanjutan).
“Para emiten atau perusahaan publik yang fokus pada keberlanjutan lingkungan akan jadi pilihan masyarakat untuk berinvestasi karena mereka berhasil meningkatkan kredibilitas dalam mereduksi emisi. Untuk di Lampung, kami akan coba hitung apakah sudah ada emiten yang masuk dalam bursa karbon,” kata Bayu.
Pacu Ekonomi Hijau di Daerah

Lebih lanjut, Bayu memaparkan bahwa perdagangan karbon dapat menjadi instrumen strategis bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah tanpa merusak alam. Salah satu caranya adalah melalui optimalisasi sektor kehutanan dan lahan.
“Pemerintah daerah terus dipacu untuk menciptakan energi yang lebih hijau. Karena dengan mengurangi emisi, bisa juga dilakukan pemberdayaan ekonomi daerah melalui perdagangan karbon,” ucapnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk menghijaukan kembali hutan dan memperbaiki lahan-lahan rusak yang memiliki nilai penyerapan karbon tinggi. Langkah ini diharapkan dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, OJK menegaskan akan terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi mengenai mekanisme pasar karbon ke berbagai wilayah.
“Kami terus mempromosikan bursa karbon dan perdagangan karbon, salah satunya di Lampung,” pungkas Bayu.* (Antaranews)
















