EBT Kini Jadi Standar Dunia, Industri Nasional Didorong Tinggalkan Energi Fosil

Energi bersih kini jadi syarat ekspor global, pemerintah dorong industri Indonesia percepat transisi ke EBT. (Foto: dok. Pertamina)

ATKARBONIST – Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) kini bukan lagi sekadar pilihan ramah lingkungan, melainkan telah menjadi syarat penting bagi industri nasional untuk tetap mampu bersaing di pasar global. Pemerintah menilai penggunaan energi bersih menjadi faktor utama yang menentukan akses ekspor sekaligus keberlanjutan industri Indonesia di masa depan.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) mengungkapkan bahwa tren perdagangan dunia semakin menempatkan aspek dekarbonisasi sebagai standar baru dalam aktivitas industri. Industri yang mampu beralih ke energi bersih dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar internasional.

Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi Kemenko Perekonomian Farah Heliantina menjelaskan, transisi energi saat ini tidak hanya berkaitan dengan komitmen terhadap lingkungan hidup. Lebih dari itu, penggunaan listrik bersih telah menjadi instrumen ekonomi strategis yang menentukan daya saing nasional.

“Di sisi lain kita ada EU-CEPA dan pemberlakuan CBAM Uni Eropa yang menegaskan bahwa nanti akses pasar dan daya saing ekspor itu semakin terkait langsung dengan agenda dekarbonisasi. Jadi listrik bersih bukan lagi pilihan komplementer melainkan juga menjadi persyaratan akses pasar,” ujarnya dalam Diskusi Publik Renewable Energy Zones (REZ) as an Enabling Instrument INDEF, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Menurut Farah, kebijakan global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang diterapkan Uni Eropa menjadi sinyal kuat bahwa produk berbasis energi fosil akan semakin sulit bersaing dalam perdagangan internasional ke depan. Negara dan industri yang lambat melakukan transisi energi berisiko kehilangan peluang pasar.

“Transisi energi perlu dimaknai bukan semata-mata sebagai wujud komitmen terhadap lingkungan hidup saja tetapi juga sebagai instrumen ekonomi strategis yang secara nyata mendukung pengembangan industri, memobilisasi investasi serta kemajuan bangsa dalam jangka panjang,” paparnya.

Meski demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam percepatan energi terbarukan. Sekitar 60 persen pasokan listrik nasional hingga kini masih bergantung pada batu bara. Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan kapasitas energi terbarukan dinilai berjalan lambat dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia.

“Penambahan kapasitas energi terbarukan dalam satu dekade terakhir ini hanya 0,5 gigawatt per tahun dan ini menunjukkan kita masih tertinggal jauh tentunya kalau dari Tiongkok kita sangat jauh sekali, 199 gigawatt per tahun dibandingkan kita 0,5 ini gap-nya juga sangat-sangat besar,” jelasnya.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pemerintah membuka peluang luas bagi sektor industri untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan energi baru terbarukan hingga 100 Giga Watt (GW). Langkah ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kawasan industri hijau yang terintegrasi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

“Dua pertanyaan yang mendasar nanti mungkin yang kita perlu jawab semua adalah nanti siapa yang menyerap listrik yang dihasilkan dan bagaimana memastikan pasokan itu bisa sampai ke pusat industri tepat waktu,” tandasnya.* (CNBC Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *